Sabtu, 26 September 2015

21.38.00
photo by domy kamsyah

Belakangan, mendaki gunung sedang menjadi trend yang sangat populer di kalangan kaum muda Indonesia. Semakin berkembangnya teknologi  yang memudahkan penyebaran informasi menjadi salah satu penyebab populernya kegiatan mendaki ini. Gambar-gambar cantik disertai cerita perjalanan menarik yang banyak diunggah para pendaki, telah berhasil meningkatkan minat masyarakat (khususnya para remaja) untuk turut serta mencoba mencicipi rasanya mendaki gunung yang terkenal sebagai salah satu olahraga yang cukup ekstrim. Siapa yang tak kesengsem jika disuguhi foto-foto pemandangan bentang alam nan indah, momen sunrise yang sangat mempesona, atau lautan awan yang begitu menggoda.

Alam tak akan pernah bisa diterka..

Tujuan setiap orang saat melakukan pendakian gunung tentunya berbeda-beda, namun bisa diperkirakan jika mayoritas tujuan para pendaki khususnya para pemula pastinya tak jauh dari menikmati pemandangan bentang alam, menikmati sunrise, atau mengagumi keindahan lautan awan yang hanya bisa dinikmati dari atas gunung tinggi. Menetapkan tujuan seperti itu sebetulnya sah-sah saja, namun perlu untuk diingat, jika gunung bukanlah sebuah lukisan pemandangan yang tak akan pernah berubah, tak ada kepastian jika sunrise di sebuah gunung akan selalu seindah dalam foto yang kamu kagumi, lautan awan pun tak setiap waktu akan terjadi dan bisa selalu kamu nikmati.

Dari pengalaman saya saat beberapa kali melakukan pendakian gunung, momen-momen indah tersebut tak selalu bisa kita nikmati di setiap kesempatan, jadi alangkah baiknya untuk mengesampingkan tujuan tersebut sebagai bonus tambahan yang bisa didapat dari pendakian yang kita lakukan.

Ditengah kepungan kabut dan gerombolan pendaki
Pernah suatu ketika, saya tiba-tiba tertarik untuk mendaki Gunung Prau yang ada di Dataran Tinggi Dieng karena melihat foto-foto keren yang diunggah pendaki lain di sosial media. Setelah terbuai dengan foto-foto indah itu, saya begitu berambisi mendapatkan foto yang serupa dengan apa yang telah saya lihat, hingga tak lama berselang, saya langsung membuat rencana pendakian ke Prau bersama kedua teman hingga esoknya berangkat menuju dataran tinggi Dieng. Sejak memulai pendakian, pikiran saya terfokus dengan ekspektasi tinggi untuk dapat menikmati pemandangan bentang alam indah yang ada di atas gunung tersebut. Setelah jauh-jauh datang kesana, dan kemudian berlelah-lelah menapaki tanjakan demi tanjakan sambil diguyur hujan sepanjang malam (kala itu saya mendaki malam via patak banteng, yang sudah pernah mendaki kesana pasti kenal dengan jalur menanjak di patak banteng ini), hingga akhirnya kami sampai juga di puncak yang penuh sesak dengan tenda para pendaki. Kala itu kami sampai di puncak diakhir malam, dan langsung mendirikan tenda untuk segera beristirahat. Bayangan keindahan pemandangan sunrise disertai lautan awan yang menghampar di bawah menyertai tidur saya kala itu. Esoknya, riuh teriakan para pendaki membangunkan saya beserta kedua rekan, “wah sunrise indah akhirnya datang!” pikir saya, yang dengan cepat bergegas bangun untuk keluar dari tenda. Dan saat membuka tenda, angin pagi yang super dingin menerpa wajah, pucuk Gunung Sindoro sedikit mengintip diantara kabut tebal, matahari tak kelihatan rimbanya, pemandangan indah tertutup kabut tebal yang tak kunjung pergi hingga siang menjelang. Bahkan hingga menjelang sore, tak ada perubahan berarti yang terjadi, mentari memang sesekali muncul, namun kabut pekat yang menghalangi pemandangan Gunung Sindoro Sumbing yang indah tetap keukeuh tak mau hilang. Saya tercenung, kecewa setengah mati dengan kondisi ini. Ekspektasi tinggi yang sudah terlanjur tertanam di benak saya balik menyerang dengan segudang kekecewaan.

***

Ada lagi cerita lain saat mendaki Gunung Guntur di Kota Garut. Kala itu saya bersama 3 orang teman mendaki bersama untuk menjajal medan gunung Guntur yang terkenal tandus, dan sedikit berharap akan dapat menikmati pemandangan bagus yang banyak diceritakan kawan pendaki lain yang pernah menyambangi gunung ini. Kali ini yang menjadi korban adalah salah seorang teman saya, sejak awal berencana, hingga sepanjang perjalanan pendakian, ia terlihat sangat bersemangat, dan berkali-kali bercerita tentang tujuannya untuk menikmati panorama indah dari puncak Gunung Guntur yang telah banyak ia lihat di Instagram.

Gunung Guntur yang berkabut
Saya hanya senyum-senyum saja melihat ekspektasi tinggi yang ia tunjukkan, dan beruntung saya tidak ketularan berharap banyak soal pemandangan indah dari pendakian ini, karena pada akhirnya kabut tebal lagi-lagi menghancurkan harapan-harapan indah dalam benak teman saya tersebut. Dari sejak sampai di puncak pada sore hari, hingga pagi esok harinya, kabut tebal terus menyelimuti puncak Gunung Guntur yang katanya indah itu. Tak ada pemandangan terang benderang lampu kota di malam hari, tak ada golden sunrise saat pagi menjelang, apalagi lautan awan yang menghampar menutupi kota, kami pun harus puas dengan pemandangan kabut tebal yang setia menyelimuti seluruh ruang di puncak Guntur. Alhasil teman saya pun kecewa berat, tak ada lagi semangat membara seperti yang ia tunjukkan di hari sebelumnya, hanya ungkapan-ungkapan penyesalan dan kekecewaan yang sesekali terlontar dari mulutnya.

Tinggalkan ekspektasimu saat mendaki!

Dari kedua pendakian itu, saya akhirnya mengambil pelajaran berharga, bahwa ambisi dan ekspektasi tinggi bukanlah hal yang bagus untuk dibawa mendaki. Yang namanya gunung itu pasti merupakan bentang alam dengan posisi ketinggian yang cukup menonjol dibanding dataran rendah yang banyak dihuni manusia, jadi wajar saja jika cuaca di gunung sangat mudah sekali berubah-ubah, kadang berkabut, kadang cerah ceria, atau malah tak jarang badai menerjang. Perlu sedikit keberuntungan untuk dapat memperoleh pemandangan indah yang kita idam-idamkan. Dengan fakta tersebut, alangkah baiknya jika kita bisa meredam ekspektasi tinggi saat hendak mendaki, agar di akhir perjalanan tak ada penyesalan dan kekecewaan yang terpendam dalam hati.
Cobalah untuk menikmati perjalanan panjang yang kita lakukan, cobalah untuk mengambil pelajaran berharga dari pendakian yang sangat melelahkan, dan cobalah untuk menikmati alam tanpa mengharapkan kondisi ideal tertentu yang ada dalam pikiran.
Jika dinikmati dengan ikhlas, seburuk apapun cuacanya dan sejelek apapun pemandangannya, alam pegunungan tetap merupakan satu hal yang sangat berharga untuk dinikmati, karena tak setiap hari kita bisa datang ke sana, dan tak setiap orang bisa menginjakkan kaki serta menghirup udara segar di atas sana. Biarlah keindahan-keindahan semacam golden sunrise atau pemandangan lautan awan yang megah menjadi bonus tersendiri atas pendakian penuh pengorbanan yang telah kita lakukan. Perjalanan pendakian yang kita lakukan dengan penuh pengorbanan terlalu berharga untuk diisi dengan kekecewaan dan penyesalan. Salam lestari!

0 komentar:

Posting Komentar