Senin, 07 September 2015

00.00.00

Pendakian Gunung Slamet - Gunung Slamet merupakan salah satu gunung tertinggi yang ada di pulau Jawa, dan merupakan yang tertinggi di Provinsi Jawa Tengah, tak heran gunung ini menjadi tujuan favorit dan mimpi banyak pendaki gunung dari seantero negeri, seperti juga saya. Menapaki puncak tertinggi di suatu kawasan tentunya memberikan kebanggaan tersendiri yang membuat saya begitu berhasrat untuk mencoba menjamahi Gunung Slamet yang terkenal memiliki medan pendakian yang sangat terjal. Tak lama setelah ide untuk mendaki Slamet muncul, akhirnya saya dan kedua teman memutuskan untuk segera mendaki gunung tertinggi di Jawa Tengah ini, karena kebetulan ada waktu libur nasional yang bisa dimanfaatkan. Setelah mempersiapkan segala yang dibutuhkan, akhirnya kami pun jadi berangkat.

berangkat dari stasiun Ciamis
Hari rabu, bertepatan dengan hari natal, yakni 25 Desember tahun 2013, kami berangkat dari kota Ciamis dengan menggunakan kereta api. Saat itu kami berangkat sekitar jam 4 sore menuju malam. Dan sampai di Kota Purwokerto sekitar jam 9 malam. Sesampainya di Purwokerto kami tidak lantas melanjutkan perjalanan menuju pos pendakian gunung Slamet, karena ternyata di daerah Purwokerto, angkutan umum telah berhenti beroperasi pada sore hari menuju malam, atau sekitar jam 6 malam. Maka dari itu, sesampainya di sana, kami harus nongkrong dulu dalam waktu yang cukup lama, dan waktu luang yang cukup panjang ini kami gunakan untuk berdiskusi tentang bagaimana kelanjutan perjalanan kami sambil mencoba menghubungi teman – teman sesama pendaki yang kebetulan berada di sana.

Pada awalnya, teman yang kami hubungi tersebut kami harapkan akan membatu memberikan tumpangan, namun sesuai perkiraan kami, kesialan memang sudah tepat di depan mata, ternyata teman yang kami harapkan tersebut kebetulan tengah berada di Ciamis. Alhasil, kami pun mencoba mencari tumpangan, mencoba bertanya tentang angkutan umum pertama yang akan masuk dan juga harga mobil – mobil sewaan yang berceceran di depan stasiun kereta. Syukur Alhamdulillah saat itu ada dua orang bapak, yang entah lah saya lupa namanya, kebetulan punya tujuan yang searah dengan tujuan kami, dan alhasil kami pun ikut menumpang bersama mereka, *rezeki anak soleh, hehe.

Walaupun tumpangan yang diberikan tidak sampai menuju pos pendakian, jaraknya pun masih sangat jauh, namun kami tetap sangat berterimakasih atas tumpangan yang diberikan bapak baik tersebut, kami doakan semoga bapak tersebut masuk sorga, Amiin.

Sekitar pukul 11 malam kami turun di sekitar perempatan jalan menuju ke Purworejo. Di sana kami menunggu angkutan umum yang menuju ke pos pendakian gunung Slamet, namun memang tidak ada satu mobil umum pun yang melintas ke daerah tempat kami menunggu, hingga sampai sekitar pukul 1 malam setelah sekian lama kami menunggu, akhirnya datanglah sebuah mobil pickup yang ternyata memang mobil yang khusus di sediakan oleh pos pendakian gunung slamet sebagai jasa antar jemput pendaki, alhasil dengan merogoh kocek sekitar 150rb rupiah (untuk tiga orang penumpang), sampailah kami dengan selamat di pos pendakian Gunung Slamet.

Gunung Slamet nampak di kejauhan
Kamis, 26 Desember 2013, sekitar jam 7 pagi, setelah melakukan pengecekan dan packing barang, akhirnya kami memulai perjalan kami menuju puncak Gunung Slamet.  Di mulai dengan jalan aspal yang menanjak, kebun sayur milik warga, lapangan sepakbola, dan sampai di hutan belantara kami lewati, sampai mendadak salah satu rekan saya terkena sakit, alhasil saat itu kami mengalami sedikit hambatan dalam waktu perjalanan.

Karena hambatan waktu itu, kami pun membagi tugas menjadi dua bagian, yang pertama adalah tugas untuk rekan saya, yang bernama Idong, dia bertugas untuk memimpin berjalanan dan melanjutkan perjalanan sendiri dari pos 2 hingga pos 5 yang bertujuan sebagai check point dan mengamankan tempat camp. Dan saya pribadi, bertugas membawa barang dan menghandle rekan saya yang tengah sakit tadi. Dengan pembagian tugas tadi, kami pun melanjutkan perjalanan sampai di pos 2 sekitar pukul 12 siang.

Di pos 2 kami check point untuk mengamankan tempat camp sebagai cadangan, takutnya di pos 5 kita kehabisan tempat untuk mendirikan tenda. Saya dan rekan saya yang sakit (Teh Ririn namanya) akhirnya berhasil sampai juga di pos 2, disana kami beristirahat sejenak untuk membuka bekal makan siang yang kami bawa, sedangkan rekan kami, Idong melanjutkan perjalanan menuju pos 5, sendirian saja. Sekitar 1 jam kami menunggu, akhirnya rekan kami sampai di pos 5 sekitar pukul 1.30, ia memberi kabar (melalui telepati) bahwa di pos 5 lokasi camp masih sangat tersedia, alhasil bermodalkan informasi tersebut, kami berdua pun melanjutkan pendakian menuju pos 5.

kuli panggul dan kawan-kawan
Setelah bersusah payah memikul 2 carrier berukuran super, sekitar jam 5 sore, saya dan Teh Ririn pun akhirnya sampai di pos 5. Di sana kami beristirahat sejenak, kemudian langsung mendirikan tenda dan menikmati indahnya sunset Gunung Slamet. Tidak lama kami membiarkan tenda kami terbuka di sebabkan angin gunung yang cukup kencang membuat udara sekitar begitu dingin, hingga kami pun memutuskan untuk memasak makanan di dalam tenda. Sekitar pukul 8 malam, kami telah menyeleseikan semua pekerjaan yang harus kami lakukan, dari mulai mendirikan tenda, makan, mengisi air dan lain – lain. Yang membuat kami kesal adalah ternyata di sekitar pos 5 ini tersedia sumber air yang cukup banyak, padahal kami sudah membawa cadangan air dari pos pendakian sampai pos 5, inilah akibat dari kebodohan kami yang kurang menggali informasi sebelum mendaki gunung ini.

Bagi kalian yang akan mendaki gunung yang belum pernah didaki, alangkah baiknya untuk terlebih dahulu mencari informasi lengkap tentang gunung tersebut, agar kejadian sial yang menimpa kami ini tidak terjadi juga sama kalian, hehe.

Setelah semuanya selesai, kami pun memutuskan untuk tidur sekitar jam 8 malam karena pukul 1 dinihari nanti, kami berniat melanjutkan perjalanan untuk berburu sunrise di puncak Slamet. Ditengah tidur nyenyak, sekitar jam 10 menuju 11 malam terjadi serangan dari pihak penghuni hutan, awalnya saya kira itu hanyalah badai atau angin gunung yang kencang, namun ternyata bukannya angin yang datang melainkan sekawanan babi hutan yang sedang turun gunung.

Sebagai pihak tamu, kami tak berdaya menghadapi serangan ini, banyak korban khususnya makanan yang kena sikat babi hutan itu, sampai tenda kami (yang notabene adalah tenda pinjaman) pun ikut menjadi korban ganasnya serangan babi hutan Gunung Slamet. Setelah kami selidiki, ternyata tempat yang kami gunakan untuk membangun tenda tersebut adalah jalur pendakian kawanan babi hutan tersebut, kenapa kesialan datang terus menerus ya. Sobekan di tenda yang dihasilkan serangan brutal para babi hutan alhasil sukses membuat kami kedinginan habis – habisan saat hendak melanjutkan tidur kami yang tertunda. Karena sedikit chaos yang terjadi malam tadi, alhasil kami pun membatalkan perjalanan semula direncanakan bakal dimulai pada pukul 1 malam, kami putuskan bakal melanjutkan perjalanan sekitar pukul 4 subuh setelah semua pekerjaan tenda selesai.

Tenda dan segala macam perkakas kami tinggalkan dengan sengaja di pos lima di dalam gubuk kecil dekat sumber air. Setelah dirasa aman, kami pun mulai melanjutkan perjalanan dengan berbekal nesting, air secukupnya, kopi, makanan ringan, dan kompor gas. Kami yang pada awalnya sangat bersemangat mengejar sunrise di puncak, akhirnya harus mengaku kalah oleh ganasnya Gunung Slamet, kami pun harus puas mendapat keindahan sunrise tepat di pos 7. Meski tak sesuai dengan apa yang kami rencanakan, namun sunrise tetaplah sunrise, dimanapun kami menikmatinya, keindahan yang Tuhan ciptakan dalam momen sunrise ini tetaplah sangat sempurna. Kami pun berdiam sejenak untuk menikmati momen indah yang Tuhan berikan ini. Setelah puas menikmati dan beberapa kali mengabadikannya dengan kamera, akhirnya kami pun melanjutkan perjalanan menuju puncak tertinggi di Jawa Tengah.

sunrise super indah
Perjalanan dari pos 7 menuju puncak menawarkan tantangan yang sesungguhnya, medan pendakian yang berubah menjadi semakin ekstrim dan terjal berhasil memacu adrenalin kami. Dengan hati-hati, kami melalui satu tanjakan demi tanjakan secara bertahap. Setelah dengan susah payah melewati tanjakan demi tanjakan bermedan terjal dan berbatu, akhirnya pada pukul 9 pagi, kami pun berhasil mencapai puncak Gunung Slamet. Dada saya serasa bergejolak, perasaan senang, bangga, dan haru bercampur aduk disana, akhirnya kaki ini berhasil menapakkan langkahnya di puncak salah satu gunung tertinggi di Pulau Jawa ini. Kenikmatan menggapai puncak setelah berlelah-lelah berjuang benar-benar tak ada bandingannya. rasa syukur pun tak lupa saya panjatkan pada Tuhan Sang Maha Pencipta segala keindahan.

trek menuju puncak
berjalan setapak demi setapak
siluet
puncak tertinggi Jawa Tengah
Setelah puas menikmati panorama di puncak, setelah puas berfoto ria mengabadikan momen bersama-sama, akhirnya kami pun memutuskan untuk kembali turun menuju pos 2, tempat dimana barang-barang kami tinggalkan. Tak ada hal menarik lainnya saat perjalanan turun gunung, Alhamdulillah semua berjalan lancar hingga kami selamat pulang kembali ke rumah masing-masing. Sekian cerita perjalanan saya mendaki Gunung Slamet, terima kasih, salam lestari!

Ditulis oleh Rega Razib Mochamad Johara, seorang mahasiswa pendaki gunung yang telah menapaki banyak puncak gunung tinggi. Semua foto dalam tulisan ini merupakan dokumentasi pribadi penulis. Foto-foto petualangan penulis bisa kamu nikmati di akun instagram dengan nama @mrjohara.

Catatan :
Punya cerita pendakian seru dan ingin kamu share di bluetripper.com, silahkan kirim cerita pendakianmu via e-mail ke alamat bluetripper18@gmail.com. Mari bercerita tentang mendaki!


0 komentar:

Posting Komentar